
Anak anda sering marah dengan emosi tinggi seperti memukul atau berteriak-teriak ? Jika YA, anda perlu melakukan hal-hal berikut...
Apakah anda pernah mengalami kejadian berikut ?
Anda dan si kecil anda berjalan-jalan ke mall atau makan di restaurant. Karena suatu hal yang sepele si kecil anda ngambek, marah dan berteriak-teriak minta pulang. Ketika anda anda berusaha membujuknya, si kecil anda justru semakin meledak emosinya, memukul atau melempar apa saja yang ada di sekitarnya.
Mungkin anda tidak pernah mengalami kejadian seperti di atas, tapi kemungkinan besar anda mengalami hal yang hampir sama. Mengapa hal ini terjadi ?
Menurut banyak ahli perkembangan dan psikolog anak, hal ini sering terjadi karena anak mengalami frustasi dengan keadaannya sedangkan dia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Hal ini sering dialami oleh anak usia 2-3 tahun.
Mengapa ?
Anak usia tersebut biasanya sudah mulai mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas.
Apa yang bisa anda lakukan ?
1. Janganikutan marah !
Saat anak anda sedang mengalami ledakan emosi, baik dengan teriakan maupun tindakan fisik lainnya, dia tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan, tetapi justru terhadap apapun yang anda lakukan anak akan merespons secara negatif. Kemudian, jika anda tidak bisa menahan emosi, anda akan ikutan marah, dan mungkin anda akan meninggalkan anak anda sendirian.
Jangan lakukan itu ! Anak anda akan merasa bahwa anda telah mengabaikannya, dan semakin membuat anak merasa ketakutan dengan apa yag terjadi. Anak akan merasa lebih tenang jika anda tetap berada di dekatnya. Jika memungkinkan, gendong atau peluk anak anda sehingga dia akan lebih cepat menenangkan diri.
2. Anda yang tetap memegang kendali
Jangan mengikuti permintaan anak yang tidak realistik atau tidak bisa anda terima hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat umum seperti mall, yang mana pada saat anak minta sesuatu anda tidak mengijinkannya, tetapi begitu anak mulai meledak emosinya anda akan mengabulkannya karena malu dengan lingkungan.
Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang diluar toleransi, kita harus tegas mengatakan ''TIDAK''. Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Katakan bahwa dia dibawa ke tempat tersebut karena tindakannya yang membahayakan. Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.
Memang, pada saat membaca tulisan ini kita bisa mengerti, tapi begitu mengalaminya langsung kemungkinan besar kita lupa dengan apa yang seharusnya kita lakukan.
Jadi bagaimana ?
Ketika anak anda mulai meledak emosinya, katakan pada diri anda sendiri, ''Ini kejadian yang wajar. Saya tahu cara menghadapinya !''. Kemudian ingatlah tulisan ini.. :)
Selain hal di atas, masih ada beberapa hal PENTING lagi yang HARUS anda lakukan supaya anak anda mengerti dan memahami apa yang sudah terjadi. Juga, tindakan anda untuk mencegah terjadinya ledakan kemarahan yang terlalu sering.
Selasa, 05 Mei 2009
Mengatasi Ledakan Emosi Anak Anda
Melejitkan kecerdasan anak melalui bahasa
Orang tua sering dihadapkan pada masalah kemampuan menggunakan bahasa pada buah hatinya. tiba-tiba saja mereka mengatakan hal kasar, memaki,
memarahi dan sebagainya. padahal kita merasa tidak mengajarkan bahasa seperti itu. Kok Bisa?
Jika kita telusuri lebih jauh ternyata bahasa merupakan media untuk mentrasfer pemikiran yang ada di dalam otak kita.
Bahasa adalah jembatan untuk mengekspresikan apa yang difikirkan dan dirasakan seseorang.
kita akan lebih mudah mengukur cara dan kadar berfikir seseorang,dari apa yang disampaikan secara lisan dan tulisan.
Oleh karena peran bahasa begitu penting, maka harus ada upaya membangun kemampuan bahasa pada anak di usia dini.
yang secara otomatis juga menjadi pondasi awal dibangunnya kecerdasan anak.
Dan yang paling berperan dalam hal ini adalah orang-orang terdekatnya. termasuk orang-orang disekitar lingkungan ia tinggal.
Dengan kemampuan berbahasa yang baik, semua ilmu yang kita berikan akan terkomunikasikan dengan baik.
Yang tidak kalah penting untuk membangun kecerdasan berbahasa yang baik adalah dengan membuat kurikulum berbahasa pada anak.
kurikulum ini membahas tentang aktivitas, tujuan, dan cara penyajiannya sehingga kita dapat mengenali potensi akal pada anak,
perkembangan indera pada anak, dan cara menstimulasi serta pengoptimalannya dalam menyerap kejadian disekitarnya. serta mengasah kecepatan mengindera dari kejadian yang akan disimpan didalam otak.
Peran Ayah

Kedekatan anak terhadap orang tuanya, terutama kepada ayahnya dipengaruhi juga dari kebiasaan-kebiasaan ayah yang diperlihatkan kepada sang anak. Ayah yang selalu mengajak anaknya berkomunikasi, bercanda, bermain ternyata bisa
merubah pola pemikiran anak untuk selalu dekat dengan sang ayah. Walhasil anak itu akan rindu jika ayahnya pergi lama, bahkan hanya beberapa waktu. Menangis, sedih bahkan rewel dan terkesan manja yang kadang membuat ibunya bingung dan bertanya-tanya.
Tentu sebagai ibu harus menyadari hal itu. Karena bukan hanya ibu yang selalu mengasuhnya tetapi karena faktor lain, diantaranya seperti yang sudah dijelaskan bahwa pola pemikiran anak tentu dipengaruhi juga oleh faktor kebiasaan ayahnya.
Sebagai ayah harus merasa bersyukur dan bahagia jika anak memang ingin dekat dengan ayah. Ini bukti bahwa ayah mampu merubah pola pikir dan tingkah laku anak.
xixiixix...baca nie para ayah atau yg mu jadi ayaH..:)
Bagaimana Membuat Anak Suka Belajar
Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:
1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.
2. Membuat ANAK SENANG BELAJAR adalah JAUH LEBIH PENTING daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.
3. Kenali tipe dominan CARA BELAJAR ANAK, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak
tidak berkembang dengan maksimal.
4. Belajar dengan JEDA WAKTU ISTIRAHAT setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.
5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.
---
Buat Si Kecil Sibuk Saat Anda Bekerja di Rumah
Banyak perempuan yang mendambakan pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah saat mereka mulai memiliki anak. Bayangan akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak, waktu yang fleksibel untuk bekerja, tentu sungguh menggoda. Bahkan, tak sedikit perempuan yang rela mengundurkan diri dari perusahaan untuk menjadi full time mommy.
Dalam kenyataannya, bekerja di rumah saat anak sedang butuh perhatian penuh, sama sekali bukan pekerjaan mudah. Bila membiarkannya anak bermain sendiri, Anda khawatir ia akan melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatan dirinya. Bila terus-menerus menemaninya bermain, Anda justru khawatir pekerjaan Anda tak juga selesai. Satu kata kuncinya adalah kompromi: Anda bekerja saat Si Kecil juga bermain. Namun maukah Si Kecil "berkompromi" dengan Anda?
Lylah M. Alphonse, penulis di sejumlah blog seperti The 36-Hour Day dan Work It, Mom!, yang juga ibu dari lima anak, memberikan beberapa ide untuk membuat Si Kecil sibuk dengan kegiatannya di rumah:
1. Atur tempat bermain di dekat meja kerja Anda. Penuhi dengan buku-buku mewarnai, spidol, stiker, lilin malam, apa pun yang ia sukai, agar ia tetap dapat beraktivitas tanpa membutuhkan banyak pengawasan dari Anda. Agar Si Kecil tak merecoki komputer Anda, beri ia ponsel bekas dengan SIMCard yang sudah tak terpakai. Ponsel tetap dapat dimain-mainkan tanpa Anda khawatir Si Kecil akan merusakkannya. Sebuah penelitian menyarankan, memberi anak ponsel bekas untuk dimainkan lebih mendidik daripada memberinya ponsel atau laptop mainan.
2. Jangan takut membiarkannya menonton TV. Pastikan stasiun TV menayangkan acara anak-anak, bukan sinetron atau berita kriminal. Atau, putarkan saja DVD film-film anak atau film pelajaran berhitung atau membaca.
3. Jangan berharap Anda bisa bekerja dalam keadaan tenang. Ada suatu peraturan tak tertulis yang menyebutkan, semakin Anda memaksa anak tidur, semakin sulit mereka tertidur. Keluarkan mainan-mainan yang biasanya tak Anda ijinkan untuk dimainkan karena terlalu berisik. Anak-anak akan senang karena diijinkan memainkannya; hal ini membuat mereka sibuk dan cepat lelah.
4. Berhenti sejenak untuk menemaninya bermain. Si Kecil akan sedikit tenang jika Anda sesekali menemaninya bermain. Curahkan perhatian Anda saat bermain, setidaknya 15 menit. Lalu minta mereka untuk bermain sendiri selagi Anda meneruskan pekerjaan. Setelah Anda selesai bekerja, jangan lupa memuji kerjasamanya dan jadwalkan waktu bermain selanjutnya.
5. Atur waktu untuk membacakan cerita. Buku-buku atau CD berisi cerita-cerita anak adalah senjata Anda yang bekerja di rumah. Pilih cerita yang dikenal oleh anak, dan minta mereka memilih cerita yang diinginkan. Anak-anak yang lebih besar bisa diajak membaca dengan bantuan CD, atau beri buku-buku kesukaannya untuk dibacaulang.
6. Berikan PR untuk Si Kecil. Anda yang bekerja sebagai penulis freelance bisa mengajak anak untuk menulis (atau diktekan ke tape recorder) artikel mereka sendiri. Atau, berikan mereka tiga gambar, lalu minta mereka mengarang cerita berdasarkan gambar tersebut. Bisa juga Anda meminta anak-anak memilih cerita yang disukai, lalu minta mereka berakting sesuai cerita.
7. Biarkan mereka bermain air. Jika Anda bekerja dengan laptop dan khawatir akan terganggu, minta mereka mandi lebih cepat. Siapkan mainan mereka yang tahan air, lalu awasi mereka sambil tetap bekerja.
8. Siapkan kotak dengan mainan pilihan yang membuat mereka bisa mengeksplorasinya. Misalnya post-it notes, puzzle yang sederhana, scrap books, papan tulis mini, dan lain sebagainya. Ganti permainan tersebut sesekali agar mereka tetap betah di tempatnya.
Kalau MEmaR janGan diPijaT
Jika seseorang mengalami memar karena jatuh atau terbentur, hal yang pertama kali dilakukan adalah memijat. Masyarakat percaya dengan memijat dapat menyembuhkan. Namun, ternyata anggapan tersebut salah.
"Kalau memijat hanya untuk melemaskan otot itu masih boleh. Tapi kalau terjadi memar, dengan memijat justru akan membuat pendarahan yang semula terhenti akan terjadi lagi," kata dr Peni Kusumastuti, SpRM, spesialis saraf, saat media gathering bertajuk "Solusi Problem Tulang Belakang Secara Terpadu," di Jakarta, Kamis (30/4).
Peni menerangkan, pada saat terbentur memang terjadi pendarahan pada pembuluh. Namun, tubuh mempunyai kemampuan alami untuk memberhentikan pendarahan itu.
"Pada saat dipijat, memang terasa enak karena darah mengalir. Tapi justru itu yang memicu terjadi pendarahan lagi," terang Peni.
Dipijat, lanjut dia, justru akan menambah pembengkakan pada otot ligamen. Maka hal pertama yang harus dilakukan jika mengalami benturan yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah adalah segera menghentikan kegiatan dan lakukan pendinginan dengan pengompresan menggunakan es batu.
Mengatasi Autis
Autis sering menjadi perbincangan hangat di kalangan orangtua dan pakar kesehatan anak. Kurangnya informasi tentang ini sering membuat orangtua dicekam rasa takut, terutama jika mendapati anaknya memiliki tingkah laku aneh.
Autis adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak. Gangguan ini membuat anak tidak mampu berinteraksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Gejala autis pada anak timbul sebelum usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun.
Ada kemungkinan Autis disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan. Di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhannya lebih besar.
Sebelum/sembari mengikuti pendidikan formal (sekolah), anak autistik dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak antara lain:
Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik.
Terapi Okupasi : untuk melatih motorik halus anak.
Terapi Bermain : untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.
Terapi melalui makan (diet therapy) : untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autisme.
Sensory Integration therapy : untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indra anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan)
Auditory Integration Therapy : untuk melatih kepekaan pendengaran anak lebih sempurna
Biomedical treatment/therapy : untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)
Hydro Therapy: membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.
Terapi Musik: untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi.